BEM FMIPA UNJ

SOSPOL

Home  >>  Kegiatan Kami  >>  SOSPOL

 CERITA “HARI ITU”

ceritahariitu

               Hari itu, Rabu 20 April 2016. Tepat di depan singgasana “Raja” ibu kota. Kami barisan mahasiswa tak bersenjata yang hanya mengandalkan suara berteriak menggaungkan kebenaran. Sudah menjadi rahasia umum “jantung” ibu pertiwi sedang sakit, sakit oleh kesengsaraan yang semakin merebak, sakit oleh kemelaratan yang semakin meluas, sakit oleh kedzaliman yang semakin diwajarkan.

                 “Jantung” ibu pertiwi kami sedang sakit, sakit parah bahkan. Rakyat yang harusnya dilindungi Negara nyatanya malah merasa terancam oleh Negara. Tinggal disana digusur, tinggal disini digusur, dengan dalih mereka menempati tanah Negara maka diwajarkan nurani tak bekerja. Negara ada untuk menyejahterakan rakyat tapi nyatanya apa? Laut luas pun ditimbun, Bapak Ahok yang para pengusaha sayangi dan cintai coba bapak jawab, setelah laut bapak timbun mereka mau mencari ikan dimana? Tak pernah saya lihat ada ikan hidup dan berjalan-jalan ria diatas daratan.

              Muak sekaligus miris sejujurnya jika membahas tentang peyakit “jantung” ibu pertiwi kami. Nantilah itu kita bahas secara mendetail berbagai peyakit Ibu pertiwi kami.

                Kembali ke aksi kemarin, kami datang dengan suara lantang tak lebih dari seratus jumlah kami. Tujuan kami satu, menemui bapak ahok yang para pengusaha cintai untuk berdiskusi mengenai rakyatnya, tanggung jawabnya, dan semua yang telah diperbuatnya. Namun yang kami dapat diluar dari itu, diluar dari yang bisa kami pikirkan, dan semua sangat amat mengecewakan.

                Alih-alih mendapat sambutan baik teman kami malah dikeluarkan secara paksa dari dalam singgasana. Entah apa salah kami. Apa kami mengancam hidup bapak? Apa kami menodongkan senjata kedahi bapak? Apa kami membawa bom sehingga perilaku kasar dihalalkan untuk mengusir kami?

                  Alih-alih pulang dengan wajah ceria kami pulang dengan menundukan kepala. Kedzaliman masih meliputi “jantung” ibu pertiwi. Suara kami belum cukup kuat menghembus untuk menggerakan awan hitam dari atas bumi Jakarta. Namun, kami tidak putus asa. Hati kami telah berkomitmen untuk terus berada dalam barisan oposisi pemerintah selama yang diperintah masih merasa terdzalimi. Karena yang kami pahami pada zaman seperti ini berdiam diri adalah sebuah bentuk pengkhianatan.

Allahu Ta’ala a’lam

Author: Muhamad Zidni Rizky Ardani (Wakil Ketua BEM FMIPA 2016-2017)

Editor: Rahmi Putri